Rabu, 18 Maret 2015

BUPATI MENCADANGAKAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN PESISIR JAMURSBA MEDI DAN SEKITARNYA

Pemerintah Kabupaten Tambrauw  perlu kita Apresiasi karena tepatnya Tanggal 12 Juli 2013 Bupati Kabupaten Tambrauw  Bapak Gabriel Asem, MSi. dan SKPD terkait secara resmi mencadangakan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jamursba Medi dan Sekitarnya.  Kawasan ini begitu penting bagi Kabupaten Tambrauw karena adanya penyu Belimbing Maskot dan Simbol Kabupaten ini.  
Dengan keluarnya SK Bupati Tambrauw Nomor 46 Tahun 2013 Tentang pencadangan Kawasan  Taman Pesisir Jamursba Medi dan sekitarnya, Maka pemerintah sudah mencapai tahap yang sangat penting untuk selanjutnya kawasan ini di naikkan statusnya dan ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan Kelautan.   Penetapan kawasan ini sangat penting guna menjadi landasan pemerintah daerah mendapatkan dana dari Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk Pengelolaannya, terutama pemberdayaan masyarakat disekitar kawasan.  
untuk mencapai tahap penetapan oleh kementrian maka Pemda Kabupaten Tambrauw perlu mempersiapkan Rencana pengelolaan dan Unit pelaksana teknis yang di sahkan oleh Bupati.  Kita berharap Dinas terkait mampu mempersiapkan serta menjadi motor peningkatan status kawasan Jamursba medi dan sekitarnya, demi kelestarian Penyu Belimbing dan kesejahteraan masyarakat.  (HF) 





Status Hukum yang Jelas Jamursba medi dan Warmon penting kah ?

Pantai peneluran Jamursba medi yang sebelumnya adalah Suaka Marga Satwa, sekarang menjadi tidak jelas status hukumnya, tapi apakah penting status hukum bagi pantai peneluran ini?  menurut Peraturan Menteri Nomor 17 tahun 2008  sasaran dari kawasan konservasi wilayah pesisir adalah untuk perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan dan kesinambungan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman. 

selain itu  keuntungan lain jika pantai peneluran Jamursba medi memiliki Status hukum  yaitu :

1. Menjadi dasar bagi pemerintah daerah  untuk mendapatkan anggaran pengelolaan dari pemerintah Pusat. terutama program pemberdayaan masyarakat  pengawasan.
2. Menjadi dasar pembentukkan Unit Pelaksana Teknis Daerah   (UPTD) khusus untuk menangani pantai peneluran.
3. Pantai peneluran akan aman terutama dari pembangunan maupun pemukiman  dimasa yang akan datang yang akan mengganggu aktivitas peneluran.
4. Menjadi Dasar Perhatian Pemerintah untuk masyarakat di sekitar Pantai peneluran,
5. Terlindungnya aktivitas peneluran penyu belimbing di pantai Jamursba medi dan Warmon.

Jadi banyak kan keuntungan kalau memiliki status hukum menjadi kawasan konservasi !! 

jadi jangan takut mendukung konservasi, karena konservasi tidak melarang, melainkan memanfaatkan secara lestari.  (HF)

Rabu, 14 Januari 2015

Visi pengelolaan yang akan dicapai di Tahun 2019

Masyarakat adat suku abun yang tergabung dalam tim 15 orang yang merupakan perwakilan dari Kampung-Kampung di Sekitar Kawasan peneluran penyu belimbing Jamursba Medi dan Warmon, berkumpul dari tanggal 16 - 18 November 2014 untuk menyusun Visi dan misi mereka terkait pengelolaan kawasan perlindungan penyu Belimbing.  Kemudian mempresentasikan hasil mereka dalam Rapat Forum Kolaborasi yang dilakukan tanggal 18 November 2014 di Aula Kantor Bupati di Sausapor.
visi mereka yang diharapkan mereka capai hingga tahun 2019  adalah  Pada Tahun 2019, Pengelolaan perlindungan Penyu Belimbing dan pantai peneluran Jamursba Medi dan Warmon dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan oleh masyarakat adat bersama Pemerintah Kabupaten Tambrauw dan para pihak lain sehingga berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat adat dan kelestarian penyu belimbing.  Masyarakat adat yang diwakili oleh Johanis Sundoy mempresentasikan Roadmap menuju Visi tersebut, sehingga membutuhkan peran serta pemerintah daerah untuk mensuksekannya. 

Rencana Aksi untuk  jangka pendek, masyarakat akan melakukan upacara adat pemanggilan penyu di pantai Jamursba medi tujuan dari Upacara ini adalah mengembalikan penyu kepada adat,   diharapkan melalui hal ini ada dukungan dari Adat suku Abun untuk mendukung kegiatan konservasi di Pantai Peneluran. (HF)  



Rabu, 11 Juni 2014

Penyu yang Menangis


Kalau kita bertemu induk penyu belimbing saat naik bertelur di pantai, kita akan melihat cairan kental bening  yang keluar dari matanya. Sekilas kita melihat dia sedang menangis. Masyarakat setempat mengatakan bahwa penyu (Induk) tersebut menangis karena sebentar lagi dia akan meninggalkan telur-telurnya dan akan pergi jauh, sehingga dia menangis.  jadi apa benar demikian?
Sebenarnya tidak demikian. Penyu belimbing hidup didalam air laut yang mengandung kadar garam (asin) sehingga tentu penyu belimbing akan minum air dari laut utuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Oleh karenanya penyu ini memiliki kemampuan adaptasi untuk mengurangi kelebihan garam dalam tubuhnya. Penyu belimbing memiliki kelenjar garam yang berada di kepala letaknya di dekat mata. Yang gunanya untuk mengurangi kelebihan garam dalam tubuh, saat saluran air mata terbuka, secara otomatis cairan yang mengandung garam, jenih dan kental juga ikut keluar dan disaat yang sama terjadi pengurangan kadar garam dalam tubuh. Ekspresi yang nampak adalah sepertinya induk penyu belimbing sedang menangis (HF). 

Penyu Belimbing, bertelur dengan ancaman

Pesisir pantai Utara Kabupaten Tambrauw adalah Surga bagi penyu untuk bertelur.  namun demikian hanya beberapa segmen pantai yang aman dari penjarahan manusia. Hanya daerah-daerah yang berada dalam kawasan Suaka Marga satwa Jamursba medi dan salah satu segmen pantai yang dilindungi yaitu Pantai Warmon.  diluar itu jika induk penyu naik bertelur hampir tidak selamat terutama telurnya. sementara di daerah Suaka Marga satwa sendiri predator alami babi hutan, biawak dan anjing liar sudah menunggu disamping induk penyu yang sementara bertelur, belum kalau pantainya terkikis ombak atau terkena erosi air hujan, sangat disayangkan memang, penyu ini makin berkurang karena tidak ada pasokkan tukik yang selamat ke laut.  
Pemerintah daerah seharusnya melakukan lebih banyak program penyadaran dan pendekatan kepada masyarakat untuk mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan konsumsi daging dan telur penyu ini.  Jika hal ini dibiarkan terus maka kita akan senasib dengan Malaysia dimana pantai penelurannya tidak didatangi penyu lagi. 
Berdasarkan Penelitian dari Universitas Negeri Papua tentang Kerentanan penyu Belimbing (Runtuboi, et al 2013) menelaskan bahwa tingkat kerentanan penyu belimbing di Pantai Warmon lebih tinggi dibandingakan di Jamursbamedi, namun demikian penyu yang bertelur di  Jamursba medi juga tercatat dalam status rentan ancaman (faktor alami maupun ulah manusia). 
Diketahui pula bahwa Pantai Jamursba medi dan Warmon adalah penyumbang stok populasi penyu yang ada di Pasifik Barat.  Jika tidak ada pasokan tukik dari kedua pantai ini, otomatis populasi penyu akan berkurang dengan sendirinya. (HF)

Selasa, 10 Juni 2014

Jamursba medi nasibmu kini....

Setelah salah satu LSM konservasi yang telah lama bekerja di Jamursba medi menyatakan untuk tidak melakukan
monitoring di Pantai Jamursba medi dan beralih ke pemberdayaan masyarakat sejak akhir tahun 2012 dan menyerahkan kegiatan monitoring kepada UNIPA (Universitas Negeri Papua), otomatis  kegiatan monitoring sepenuhnya langsung dibawah pimpinan UNIPA hal ini juga tertuang dalam Joint Operation Plan yang dibuat bersama dibawah otoritas Balai Besar KSDA Papua Barat,
Namun demikian sampai dengan 2014 kegiatan monitoring tidak berjalan mulus, kurangnya perhatian dari pemerintah daerah Tambrauw terhadap kegiatan monitoring dan tuntutan dari masyarakat lokal terhadap lembaga yang bekerja di Pantai  untuk kompensasi kegiatan mereka berbuntut pada kegiatan monitoring yang terganggu.  Sementara itu dari pantauan terakhir di bulan April 2014 terlihat bahwa tingkat kematian penyu lekang dan predasi terhadap sarang penyu cukup tinggi di Pantai Warmamedi.   Sepertinya harapan kepada pemerintah daerah untuk menangani secara serius asset daerah yang menurut penelitian terakhir (Tapilatu et al 2013) terus mengalami penurunan jumlah individu penyu yang bertelur ini semakin kurang.  padahal bila dikelola dengan baik, icon kabupaten Tambrauw ini dapat menarik wisatawan asing untuk melihat penyu terbesar di dunia yang bertelur di pesisir Kabupaten Tambrauw.
Di awal Juni ini yang merupakan puncak dari peneluran penyu belimbing hampir tidak ada perhatian maupun agenda kegiatan dalam melindungi habitat penyu belimbing di Pantai Jamursba medi, padahal musim bertelur setiap tahun selalu sama.  kita tunggu saja selanjutnya.  (HF) 

Selasa, 03 September 2013

MITOS BATU RUMAH (JOKJA) DAN PENYU BELIMBING SEBAGAI SAHABAT DI PANTAI JAMUSBA MENDI KABUPATEN TAMBRAUW

Oleh : Johanes Juzack Sundoy, SH

Sejak dahulu kala di belahan dunia banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang merupakan cerita dongeng atau cerita rakyat yang dianggap bernyawa dengan meninggalkan banyak bukti sejarah salah satunya ada di pedalaman Tambrauw yaitu Frabinuh atau Jokja. Cerita rakyat ini sekarang menjadi batu yang berbentuk rumah dan berkedudukan di pantai jamusba medi dengan meninggalkan berbagai kesan yang dianggap terbukti dan abadi hingga sekarang.

Pada mulanya..............................................................
Batu yang menyerupai Rumah ini memiliki Cerita asal usul kesukuan masyarakat pribumi suku Abun pada zaman dahulu kala (zaman primitif), maka sekarang disebut sebagai batu rumah.  Batu ini awalnya bernyawa dan memiliki jiwa seperti manusia sehingga bisa bergerak dari tempat yang ke tempat yang lain dan di anggap sebagai pewaris dari nenek moyang sehingga disebut dengan nama  atau istilah lokalnya dalam bahasa daerah yaitu, (Jokja, bahasa Abun), (Frabinuh, bahasa Karon Gunung).
Batu rumah (Jokja) tinggal bersama kakak kandungnya yang bernama Waisikek di sungai Aswok/Ajer diatas gunung Tokir Kampung Rufmot/Wewetmuk Distrik Miyah Kabupaten Tambrauw Papua Barat.
Suatu ketika terjadi pertengkaran Batu rumah (Jokja) dan kakaknya Waisikek masalah  tali perut tikus tanah. Masalah ini menyebabkan kakaknya Waisirek marah dan mengatakan kepada Jokja (Batu Rumah) bahwa hari ini juga engkau harus pergi dari tempat  ini (Sungai Aswok/Ajer atau Waisirek  mengusir adiknya Jokja (batu rumah), waisirek mengatakan Jokja engkau pergi dari tempat ini pergi ke pantai tinggal bersama perempuan yesa sebab dia akan membuka tikar merah milik di pantai jamusba medi dan engkau tidur di  sana, kamu tidak boleh tinggal dekat gunung Tokir atau gunung Totu tetapi langsung sampai ke pantai, sebab jika kamu tinggal di situ maka saya akan masih melihat kamu. Lebih baik kamu pergi dan jalan terus sampai ke pantai supaya bisa tinggal di atas tikar merah perempauan orang Yessa.
Kemudian batu rumah langsung pergi bersama anak perempuannya keluar dari gunung Tokir kemudian menyeberang kali Soon dan menaiki gunung Totu kemudian turun ke kali Sunggwat dan bertemu dengan gunung Batu Kenari (Jokmon), gunung ini sebagai perbatasan antara kali Sunggwat dan kali Kwoor. Jokja (batu rumah) pergi dengan membawa beberapa bekal yang merupakan perlengkapan seperti buah merah, daun gatal, tongkat, sagu, daun lebar, batu gosok, empat ekor anjing, dan anak panah.
Sepanjang perjalan Jokja istirahat di beberapa tempat dan setiap tempat istirahat meninggakan bekal yang dibawa sebagai tanda. Jokja berjalan sampai di sungai syunggwat  meninggalkan daun gatal,  dan  merelakan anak perempuannya kawin dengan Jokjar (batu  berurat). Kemudian Jokja berjalan mengikuti kali kwoor menuju pantai, dan sampai di pertengahan kali kwoor dekat gunung Tubouw menancapkan tongkat diatas gunung tubouw dan meninggal sagu, setelah itu berjalan mengikuti pinggiran gunung Tubouw dan menemukan sungai Syukjo (kali Wajarik) dan mengikuti pingnggiran sungai kemudian menemukan sungai syunggas dan berjalan menyusuri sampai ke kepala air syunggas dan naik keatas gunung tosem (Gaibo) kemudian  memandang ke pantai disana Jokja melihat suasana lautan yang luas, bersih dan rata, tiba-tiba terdengar anjingnya menggonggong seekor lao-lao, Jokja kembali dan mengejar mengikuti anjingnya sampai ke kepala air sungai Syunggak ternyata kehilangan arah lalu Jokja kembali mengikuti pingiran sungai syunggak namun belum menemukan pantai sehingga kembali lagi mengikuti pinggiran sungai syunggak sampai di pertengahan dan naik mengikuti gunung joko, di sana ia melihat ke pantai ternyata menemukan lautan disitu dia meninggalkan batu gosok, kemudian mengikuti pinggiran sungai syunjouw sampai ke muara syunjouw dan menemukan pantai. Pada saat sampai di pantai ternyata air laut masih air pasang (air penuh) sehingga ia menunggu dan memandang kembali ke gunung tidak lama kemudian  air laut sudat surut (air meti) dan disitulah batu rumah menganggap bahwa tempat inilah yang di maksudkan oleh kakaknya Waisirek  bahwa inilah tikar merah perempuan Yessa yang di janjikan oleh kakaknya Waisikek kemudian batu rumah berjalan ke laut tempat kering dan duduk disitu sesuai janji kakanya waisikek dan menetap hingga sekarang.
Setelah menetap di pantai pada malam hari datang seekor penyu yang mau bertelur dan dilihat oleh batu rumah ternyata mahkluk ini belum pernah di lihat dan bentuknya sungguh mengherankan dan pada saat penyu bertelur batu rumah mengitu proses itu hingga selesai dan penyu itu pergi kemudian batu rumah menjaga telur itu hingga menetas dan penyu kembali kelaut. Datang musim berikikutnya batu rumah melihat penyu itu datang lagi dan batu rumah menjelaskan kepada penyu bahwa engkau adalah dewa laut dan aku akan bersahabat dengan engkau dan semua telur yang engkau tinggalkan di tempat ini akan ku jaga sampai menetas. Dan disinilah jalinan persahabat antara batu rumah dan penyu belimbing sehingga tempat itu menjadi pilihan peneluran penyu yang terjalin hingga saat ini.
Persahabat mitos ini terus terjalin dan akrap sekali, namun suatu ketika penyu itu datang bertelur dan telurnya di makan oleh anjing piaraan batu rumah maka penyu belimbing  marah dan tidak kembali ke pantai Jamusba medi dan pergi bertelur di Warmon akhirnya batu rumah merasa kehilangan sahabat yang dianggap dewa itu, akhirnya batu rumah meminta pertolongan kepada kakaknya dengan menyuruh anjing-anjingnya untuk bertemu kakanya meminta pertolongan, maka kakaknya melakukan pemanggilan yang di lakukan secara adat dengan dansa srar selama satu malam dengan ungkapan nyanyian alam kemudian menyuruh anjing-anjingnya kembali menyampaikan kepada batu rumah untuk memanggil penyu dengan cara menyeka daun kelapa di atas kulit air sambil menyanyi nyayian alam sambil memanggil penyu. Setelah menjelang hari mulai malam tiba-tiba penyu belimbing kembali mendarat kedarat untuk bertelur dan melalui kesempatan itu batu rumah meminta maaf kepada penyu dan berjanji tidak akan menyakiti penyu dengan komitmen bahwa batu rumah akan menjadi panjaga kawasan dan tempat peneluran penyu. Dari peristiwa ini Batu rumah terus menetap di pantai Jamusba medi sebagai penjaga penyu mulai dari peneluran sampai pada penetasannya dan menjaga selama penyu mulai menjadi tukik dan melepaskannya untuk hidup mengarungi lautan. Komitmen ini di kemudian diterima oleh penyu dan mereka bersahabat dan saling melindungi dan batu rumah terus menjadi penjaga penyu untuk kawasan peneluran Jamusba medi hingga sekarang.


Sah! Gubernur Papua Barat Keluarkan PERGUB UPTD TP Jeen Womom

Penantian yang ditunggu Pemerintah Kabupaten Tambrauw terjawab sudah, setelah ditetapkan Menteri  menjadi Taman Pesisir Jeen Womom pada Des...