Kamis, 26 Januari 2012

Benarkah Pemasangan PIT tag dan Transmiter Menyebabkan Penyu Belimbing Berkurang ?

Sebagian masyarakat Kabupaten Tambrauw daerah pesisir yang masih awam, menyebutkan bahwa penggunaan taging (biasa disebut “penen”), adalah penyebab penyu tidak balik bertelur kembali ke pantai.  Tapi apakah hal ini betul ? apakah penen atau taging yang dimaksud ini dan apa maksud pemasangannya ?

Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) adalah penyu terbesar di dunia yang keberadaanya sudah sangat berkurang oleh karenanya dimasukkan dalam daftar CITES sebagai hewan yang paling dilindungi, di indonesia pun penyu ini merupakan penyu yang dilindungi oleh undang-undang.  Penggunaan PIT tag semata-mata dilakukan untuk tujuan Ilmiah demi pengelolaan penyu yang baik.

Apa Itu taging  dan apa itu PIT tag ?

Taging itu sediri berasal dari bahasa inggris yang berarti : tanda, label (on a box). 2 kartu. price t. kartu harga. 3 pening, kepingan untuk nama, tanda pengenal. -kkt. (tagged) membubuhi /memasang etik.  Dengan demikian memberi taging kepada penyu berarti memberi tanda/ label pada penyu papada umumnya tanda tersebut berupa logam atau plastik yang dipasang sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi gerak, biologi  dari penyu tersebut. Taging dibagi menjadi dua jenis menurut letaknya yaitu external taging dan internal taging.   External taging biasanya dipasang pada fliper penyu- penyu kecil (penyu hijau, sisik, sisik semu)  berupa metal tag yang bernomor kode tertentu.  Sedangkan internal taging yaitu pemberian tanda kepada penyu dengan memasukkan benda kecil yang berkode (semacam chip) kedalam bagian tubuh tertentu.  Passive integrate transponder atau PIT tag adalah label microprocessors yang tidak bergerak yang dapat mengirimkan nomor identifikasi tertentu (nomor seri 12xxxxxxxA untuk Jamursba dan 13xxxxxxxA untuk Warmon) ke alat baca elektronik (reader) yang diaktifkan dengan signal frequensi radio rendah pada jarak dekat (lihat Gambar).  Ukuran PIT tag yang digunakan yaitu 11,5 x2,1 mm sampai 20,0 x3,2 mm, atau seukuran butir beras.

Apa tujuan pemasangan PIT tag pada penyu belimbing ?

PIT tag pada prinsipnya sama dengan KTP pada manusia, dimana dengan KTP kita dapat mengetahui identitas seseorang. PIT tag ini dikembangkan oleh para ahli biologi penyu  untuk mengetahui siklus hidup penyu, musim bertelur, kawin dan kematangan seksual (reproduksi), pertumbuhan, pergerakkan (migrasi), asal lokasi, populasi dan informasi penting lainnya. Dengan dipasangnya PIT tag saat ini untuk Jamursba medi kita sudah bisa mengetahui berapa kali penyu dewasa bertelur dalam satu musim, setiap berapa tahun sekali kembali bertelur, dan kita dapat  menduga berapa populasi individu betina penyu belimbing saat ini dengan baik.  Tentu tujuan akhir dari semua ini adalah informasi yang akan digunakan untuk perlindungan penyu ini.

Sejak kapan PIT tag dilakukan di Pantai Jamursba medi ?

Kegiatan PIT tag dilakukan oleh WWF Kantor Sorong sejak 2003, dan pada tahun 2005 kegiatan ini dilakukan bersama dengan UNIPA (Universitas Papua) sampai sekarang.

 Apakah Penyu di negara lain yang memiliki Pantai Peneluran juga melakukan PIT tag ?

Negara – negara lain  di dunia yang memiliki pantai peneluran penyu belimbing juga melakukan kegiatan PIT tag yang sama. Negara-negara tersebut antara lain Papua New guine (PNG), Costa Rica, Malaysia, Trinidad, Suriname, french Guiana, Pulau Adaman and Nicobar (Samudera Hindia), Mexico, dll. Kegiatan ini dilakukan secara global dan setiap negara memiliki nomor seri yang berbeda, sehingga jika penyu yang dari Papua Barat jalan-jalan ke California dapat diketahui identitasnya atau sebaliknya.




Bagaimana cara PIT tag dipasang  ?
Di Pantai Jamursba medi PIT tag dimasukkan di otot  bagian kanan depan (bahu) dekat fliper menggunakan alat jarum (disebut Gun/pistol) dengan hati-hati, akurat dan cepat. Petugas yang melakukan PIT tag wajib membawa alkohol dan betadine agar proses taging sterill. Oleh karenanya tidak semua orang di izinkan untuk melakukan ini.  Oleh karena penanda /taging ini dimasukkan dalam tubuh penyu sehingga, sangat sulit untuk hilang atau rusak.   PIT tag dilakukan kepada individu penyu belimbing betina yang sudah selesai bertelur sehingga tidak mengganggu proses peneluran.

Apakah Penyu yang di PIT tag di Jamursba medi akan kembali bertelur ?
Individu betina penyu belimbing  yang telah di PIT tag akan kembali ke pantai untuk bertelur. Rata-rata Individu betina penyu belimbing dewasa bertelur setiap 2- 4 tahun sekali.   Hal ini terbukti sangat nyata dan selalu ditemukan setiap tahun bahwa penyu yang naik setelah di scan untuk  mengetahui ada tidaknya nomor PITtag banyak ditemukan individu yang memiliki nomor seri Jamursba medi yang ditahun sebelumnya sudah di PIT tag.  Berdasarkan data WWF kantor Sorong (unpublish)  mulai Januari – Mei 2010 saja ditemukan 78 individu betina penyu belimbing yang sudah  di PIT tag di  musim peneluran sebelumnya (old number) bertelur kembali di pantai Jamursba medi dan Warmon, rata-rata proporsi  penyu yang kembali bertelur setiap tahun 23-26% (Tapilatu, et al 2010). Oleh karena terbatasnya tenaga sehingga tidak semua pantai peneluran di pesisir utara Kepala Burung Papua ini dapat di monitor, sehingga tidak semua penyu ditemukan dalam satu patrolli  malam.  Berdasarkan data ini dapat dipastikan bahwa kegiatan PIT tag tidak mengganggu penyu untuk kembali bertelur di Pantai Jamursba medi dan Warmon.


Apa itu Transmiter  ?
Transmiter jika dilihat dan didengan oleh masyarakat Tambrauw pada umumnya mereka tentu tidak tahu benda apakah ini ? tapi bagi mereka yang terlibat secara langsung dalam kegiatan monitoring di Pantai Jamursba medi  dan Warmon tentu mengetahui  alat ini.

Transmiter adalah pemancar atau bagian (alat) yang berfungsi sebagai pengirim pesan ke alat penerima (satelit). 

Apa Tujuan Penggunaan transmiter di penyu belimbing?

Penyu belimbing adalah organisme kosmopolitan, yang memiliki kemampuan migrasi yang sangat luas dan jauh.  Juga merupakan organisme pelagic dilautan.  Oleh karena aktivitas ruayanya yang jauh dan antar negara, sehingga perlu diketahui Penyu belimbing yang bertelur di Jamursba medi ini bergerak kemana  (jalur migrasinya) setelah bertelur, dan kegiatan apa yang dilakukannya. Cara untuk mengetahuinya yaitu dengan pemasangan transmiter dibadan penyu tersebut.  Hal ini penting sehingga dalam pengelolaannya melibatkan lebih dari satu negara, untuk melindungi jalur migrasinya dari jaring penangkap ikan atau pun dari kapal-kapal dagang.  Dengan mengetahui jalur migrasi penyu belimbing ini dapat dibuat aturan internasional untuk melindungi penyu ini.

Bagaimana bentuk dan cara pasang transmiter ?

Bentuk trasnmiter bermacam-macam sesuai dengan perkembangan teknologi, pada umumnya berbentuk kotak kecil, ditahun 2010  bentuknya seperti kotak yang ada antenanya (lihat Gambar).  Transmiter ini diletakkan di punggung penyu belimbing  (karapas) agar mudah memancarkan signal.  Di tahun 2004 pemasangan transmiter  agar tetap bertahan di punggung, penyu digunakan sabuk (seperti ransel punggung).  Namun di tahun 2010 hanya menggunakan perekat yang diletakkan di karapas penyu.   Transmiter dirancang sedemikian rupa agar tidak mengganggu pergerakan penyu dan dapat bertahan lama di tubuh penyu.

Bagaimana cara kerja transmiter ?

Transmiter yang telah dipasang di tubuh penyu belimbing akan memancarkan signal /pesan ke satelite.  Saat penyu ini menyelam di dalam air laut signalnya akan hilang dengan sendirinya, dan saat penyu ini  muncul ke permukaan untuk menggambil oksigen, signalnya akan tertangkap oleh satelit kembali. Dari data tersebut diketahui alur perjalanan penyu ini. 

Siapakah yang memasang transmiter di Jamursba medi dan Warmon ?

Transmiter merupakan alat yang canggih dan mahal sehingga tidak setiap organisasi mampu membeli, kegiatan pemasangan transmiter di Jamursba medi dan Warmon dilakukan oleh NOAA (Protected Resources Division, Southwest Fisheries Science Center, National Marine Fisheries Service, National Oceanic and Atmospheric Administration, Moss Landing, California 95039 USA), yang datang melalui WWF maupun UNIPA.  Tentunya sudah sepengetahuan dari pemerintah Indonesia  dalam hal ini oleh LIPI.


Apakah penyu yang dipasang transmiter akan kembali bertelur ?

Berdasarkan data yang didapat dan informasi dari WWF tim monitoring, beberapa kali menemukan penyu belimbing yang memiliki bekas pemasangan transmiter kembali bertelur (unpublish data) terbukti pada tanggal 3 Februari 2010 ditemukan penyu dengan bekas transmiter (bekas sabuk di bahu/pangkal fliper)  bertelur di pantai Warmon.  Hal ini membuktikan bahwa transmiter tidak menghambat  penyu kembali bertelur. Juga umur dari transmiter tidak akan bertahan lama di tubuh penyu belimbing.  



Apa hasil dari kegiatan pemasangan trasnmiter ini ?


Dari kegiatan ini diketahui bahwa penyu belimbing yang bertelur di Pantai Jamursba medi (musim peneluran April – September)  dalam masa-masa penelurannya (inter nesting movement) dilaporkan oleh Benson et al, 2007  bergerak ke arah sekitar perairan kepala burung (teluk cendrawasih, Raja Ampat),  PNG, kepulauan Santa Isabel dan Malaita.  Sedangkan pergerakan setelah bertelur diketahui mengarah ke bagian utara pasifik  antara lain, Sulawesi, Laut cina selatan, Kalimantan, Philipina, Malaysia, Selat Luzon (antara Taiwan dan Filipina), dan Jepang.  Beberapa penyu yang dipasang juga bergerak ke laut halmahera, Banda, seram, Aru, Kepulauan Key dan  PNG, yang lebih hebatnya lagi ada penyu dari Jamursba medi yang ke California (Amerika).



Apakah Transmiter mengendalikan penyu belimbing bergerak ke negara lain ?

Banyak masyarakat di pesisir Tambrauw meyakini bahwa ada orang India yang dibawa oleh WWF datang memasang alat di  tubuh penyu sehingga dengan remote dapat mengendalikan penyu dibawah ke negara mereka sehingga penyu yang tadinya bertelur di pesisir Tambrauw sudah berkurang, apakah hal ini bisa terjadi ?  jawabannya tentu saja TIDAK BISA, karena tidak ada teknologi sampai saat sekarang di dunia ini  yang mampu mengendalikan mahluk hidup apalagi sebesar penyu belimbing.   Transmiter hanya di letakkan di karapas penyu dan akan hilang dengan sendirinya seiring dengan waktu.  Jadi  jika masyarakat berpikir bahwa transmiter menyebabkan penyu  dikontrol dengan remote dan ditarik ke negara lain adalah SALAH,  pergerakkan yang jauh dan antar negara adalah sifat dari penyu belimbing  secara alamiah yang baru kita ketahui setelah memasang alat transmiter.
Jadi sekarang mau percaya yang mana ?  pada prasangka / pendapat   atau data/ bukti ilmiah yang terbukti sudah benar ?  (HF)

4 komentar:

  1. sangat tertarik pada artikel terutama, saya mau konsultasi, alamat email saya : elangrimbatn@gmail.com, terimaksih

    BalasHapus
  2. Terimakasih Pak Untung, Bagian mana yang akan dikonsultasikan ? salam

    BalasHapus
  3. alamat e-mail saya hvferdinandus@gmail.com

    BalasHapus
  4. terimakasih untuk informasi menarik ini, saya juga pecinta dan pemerhati satwa penyu laut. Ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan, bagaimana cara mendapatkan tagging penyu dan dimana untuk memesannya? saya dan teman-teman pemerhati penyu ingin mengadakan kegiatan berkelanjutan di pantai citireum, sukabumi untuk spesies penyu hijau dan berencana untuk membuat tagging dan memasangkan pada penyu yang kami temukan. terimakasih untuk perhatiannya

    Salam

    Joan (janitjoandini@gmail.com)

    BalasHapus

Sah! Gubernur Papua Barat Keluarkan PERGUB UPTD TP Jeen Womom

Penantian yang ditunggu Pemerintah Kabupaten Tambrauw terjawab sudah, setelah ditetapkan Menteri  menjadi Taman Pesisir Jeen Womom pada Des...