Rabu, 25 Mei 2016

Status Populasi Penyu Lekang Olive Ridley , Lepidochelys olivacea, dan Musim Peneluran di Pantai Peneluran Jamursba medi dan Warmon, Distrik Abun Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat

The Population Status of Olive Ridley  Turtles (Lepidochelys olivacea) and Their Nesting Season at Jamursba medi and Warmon Beaches in Abun District, Tambrauw, West Papua

Hadi V Ferdinandus1, Daniel Tadu1, Kuriani Wartanoi1


Abstract
Jamursba medi and Warmon beaches are the largest nesting beaches for Leatherback turtles in the Pacific. In addition, these beaches also have quite a large number of Olive Ridley turtle nests (Lepidochelys olivacea). The peak for nesting on the beach of Jamursba medi is recorded to occur between April to May during the year and in April at Warmon beach. This is important in the protection efforts of the turtle nests and to have the protection efforts focused on those months. In general, the number of turtle nests  in Jamurba medi and Warmon in the last five years is increasing although not very significant. It is estimated that there are about 182.73 – 350.91 female Olive Ridley turtles that lay eggs every year. However, predators are a great threat. In Jamursba medi, dogs are the dominant predators of the Olive Ridley nests followed by wild boars and monitor lizards, while on the beach Warmon, dogs and lizards are the major predators that eat their eggs.
Key words : Olive Ridley (Lepidochelys olivacea), Jamursba medi, Warmon, Nesting Season, Population Status

PENDAHULUAN
Kepala burung Pulau Papua merupakan tempat peneluran  bagi penyu belimbing terbesar di Pasifik. Lokasi peneluran utama di kepala burung pulau Papua  terletak di dua bentang pantai, yaitu pantai Suaka Margasatwa Jamursba Medi (JM) disebelah barat dan pantai Warmon yang terletak ± 30 km disebelah timurnya. Kedua bentang pantai dipisahkan oleh rangkaian bukit batu dan muara sungai.  Panjang pantai JM adalah ± 18 km yang terbagi atas tiga segmen pantai yaitu Wembrak (panjang ± 6505 m), Warmamedi (± 5110 m), dan pantai Batu Rumah (± 6330 m).  sedangkan panjang pantai  Warmon sekitar 6 Km.  Pantai ini berjarak + 200 Km dari kota Sorong  dengan jarak tempuh 4 – 7 jam dengan perahu bermesin 25 – 40 Pk.   Selain penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), terdapat juga penyu Lekang (Lepidochelys olivacea),  penyu Hijau (Chelonia mydas), dan penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) (Hitipeuw dan Maturbongs, 2002).   Penyu Lekang memiliki jumlah populasi terbesar kedua setelah penyu belimbing 

Konsentrasi  kegiatan yang lebih banyak mengarah pada penyu Belimbing menyebabkan, perlindungan terhadap penyu Lekang menjadi nomor dua.  Jarak telur yang dangkal di dalam pasir menjadi penyebab mudahnya sarang penyu Lekang di predasi oleh predator. Anjing, babi hutan, dan biawak merupakan predator utama yang merusak telur penyu Lekang di Jamursba medi dan Warmon.   Selain itu perburuan terhadap daging penyu Lekang  masih terjadi di pesisir Abun, hal ini terbukti dengan banyak ditemukannya karapas penyu Lekang di pantai yang banyak terdapat penduduknya di pesisir abun. 
 Kegiatan pemantauan selama ini dilakukan oleh WWF Indonesia dalam kegiatan perlindungan habitat peneluran penyu dengan mengikutsertakan masyarakat local sebagai tenaga pemantau.  Berbagai upaya yang dilakukan dalam upaya penyelamatan  telur penyu antara lain : kegiatan relokasi telur penyu  dan pengendalian predator alami, serta pendidikan lingkungan hidup 
Tulisan ini bertujuan untuk menampilkan hasil kegiatan pemantauan dan pengamanan populasi penyu Lekang di pantai JM dan Warmon, membahas hasil tersebut hingga mengerucut menjadi suatu rekomendasi pengelolaan penyu yang efektif.

MATERI & METODE
Pemantauan status populasi
·         Waktu pemantauan
Pemantauan dilakukan dalam 2 waktu yang berbeda dalam sehari, yaitu pada pagi hari dan malam hari. Pemantauan pagi hari dilakukan terjadi air pasang tertinggi untuk mendata jumlah sarang penyu yang dijumpai sedangkan pemantauan malam hari untuk mendata individu betina yang naik bertelur dilakukan pada malam hari, dan pencatatannya terhadap individu betina seperti; pencatatan panjang dan lebar lengkung karapas, serta nomor tag (Flipper tag).
Pemantauan pada pagi hari dilakukan sepanjang tahun pada saat sebelum dan ketika memasuki musim peneluran sedangkan pemantauan malam hari dilakukan pada musim peneluran yaitu di Pantai Jamursba Medi dari bulan April. hingga bulan September (6 bulan)  dan di Pantai Warmon dari bulan Oktober hingga bulan Maret  (6 bulan).  Pemantauan siang hari tidak dilaksanakan jika bertepatan dengan hari raya keagamaan (Natal, Tahun baru dan Paskah). 

·         Jumlah tenaga pemantau, dan peralatan yang digunakan
Pemantauan siang hari dilakukan oleh petugas yang  berasal dari masyarakat local yang terlatih dalam melakukan survey sarang,  setiap segmen pantai memiliki tenaga pemantau masing-masing (Tabel 1).  Sedangkan pemantauan malam hari dilakukan oleh petugas monitoring WWF, karena musim yang berbeda sehingga tenaga pemantau malam untuk pantai Jamursba medi (Wembrak, Baturumah, Warmamedi) dan Warmon adalah orang yang sama.  


Pemantauan sarang terpredasi dan hilang akibat abrasi
·         Waktu pemantauan ancaman predator dan abrasi
Pemantauan sarang terpredasi  dan hilang akibat abrasi dilakukan bersamaan dengan dilakukannya pemantauan aktivitas penyu bertelur (survey sarang) yaitu sepanjang tahun  pada pagi  hari  (kecuali hari libur keagamaan),  pemantauan sarang terpredasi pada malam hari dilakukan pada saat musim puncak peneluran saja. 
Pemantauan dilakukan dalam 2 waktu yang berbeda dalam sehari, yaitu pada pagi hari dan malam hari. Pemantauan pagi hari dilakukan untuk mendata jumlah sarang penyu yang dijumpai sedangkan pemantauan malam hari untuk mendata individu betina yang naik bertelur, dan pencatatannya terhadap individu penyu betina seperti; pencatatan panjang dan lebar lengkung karapas,  melakukan tagging menggunakan metal tag dan mencatat nomor tagging  bagi penyu betina yang pernah di tagging sebelumnya.
·         Jumlah tenaga pemantau ancaman, dan peralatan yang digunakan
Pemantau sarang terpredasi dilakukan bersamaan dengan pemantauan sarang penyu (satu paket kerja)   yaitu pantai Batu Rumah 2 orang, Wembrak 2 orang, Warmamedi 3 orang, Warmon 3 orang.
Peralatan yang digunakan dalam pemantauan sarang penyu terpredasi pagi hari  yaitu pencil, buku data, tas plastic, parang,  sarung tangan,  jaring penutup sarang,  sedangkan pemantauan sarang terpredasi malam hari  antara lain pencil, buku data, senter kepala,  dan parang. 
·         Cara mengidentifikasi sarang yang berisi telur dan penyebab kerusakan sarang
Suatu sarang dikatakan terpredasi oleh babi hutan jika jejak dan bentuk kerusakan  terlihat dilakukan oleh babi hutan  (sarang terlihat seperti kawah pasir, bekas galian melingkar merata).   Suatu sarang dikatakan terpredasi oleh anjing apabila terdapat jejak dan bentuk kerusakan  yang menunjukkan  ciri-ciri  jejak dan kerusakan oleh anjing (galian sarang yang hanya satu arah).  Sedangkan suatu sarang dikatakan terpredasi oleh biawak apabila  jejak dan  bentuk kerusakan sarang menunjukkan ciri-ciri biawak ( galian sarang lebih kecil dibanding anjing dan babi, bekas ekor biawak yang terseret di pasir).
 Untuk mengetahui suatu sarang terdapat telur atau tidak dilakukan dengan melihat tanda-tanda jejak penyu di pasir.  Jika jejak menunjukkan penyu melakukan tahapan peletakkan telur atau kamuflase kemungkinan 90 % terdapat telur penyu, untuk memastikan dapat digunakan stick/ tongkat untuk memeriksa posisi telur. 
Untuk pemantauan terhadap aktivitas pengancam populasi sarang, dilakukan pencatatan jumlah sarang penyu yang dipredasi oleh babi hutan, anjing dan biawak maupun tergerus air laut. Pemantauan ini biasanya dilakukan pada pagi hari bersamaan ketika melakukan monitoring populasi sarang baru. Hal ini dimaksud agar jejak/track sarang yang ingin dipantau belum terhapus sehingga mudah diidentifikasi.  Pada saat melakukan pemantauan, pemantau mencatat seluruh sarang penyu yang ditemukan berada dalam kondisi rusak dan/serta penyebabnya.
·         Cara Menduga jumlah populasi penyu bertelur (penyu betina dewasa)
Untuk menghitung jumlah individu yang bertelur di pantai JM dan Warmon per satu satuan waktu  menggunakan rumus (Adnyana dan Hitipeuw, 2009):
Ukuran populasi bertelur tahunan = Total sarang telur penyu  per tahun/ rerata jumlah sarang telur penyu yang dihasilkan per induk per musim
 
 



Sedangkan jumlah sarang penyu Lekang yang dihasilkan per induk per musim menurut Spotila (2004) rata-rata 2,2 sarang.
Pemantauan terhadap masa inkubasi dan daya tetas telur penyu
Pemantauan terhadap masa inkubasi hanya dilakukan pada telur yang direlokasi ke penetasan semi-alami. Penetasan ini dirancang sedemikian rupa dengan membuat kandang persegi berpagar keliling dan beratap dedaunan. Jarak lokasi penetasan dari air pasang tertinggi adalah 4 m. Penetasan ini dijaga dari predator, dan sarang digali ketika sudah menetas, atau dianggap telah melampaui masa inkubasi (lebih dari 75 hari) . Penghitungan angka penetasan telur penyu dilakukan dengan metode yang dianjurkan oleh Adnyana dan Hitipeuw (2009). Telur dianggap infertil jika ukurannya kecil dan dan tidak memiliki kuning telur.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemantauan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Jamursba Medi dan Warmon
Total sarang yang berhasil dihitung di pantai JM selama periode 2007 – 2011 berkisar antara 348 – 512 sarang per tahun (Grafik 1). Secara umum, kecenderungannya adalah meningkat dalam kurun lima tahun terakhir. Masa puncak bertelur tercatat stabil terjadi antara bulan April – Mei setiap tahunnya (Grafik 2). Namun demikian, seperti halnya yang terjadi pada sarang-sarang telur penyu Belimbing, sarang telur penyu Lekang juga tak luput dari predasi dan gerusan air laut. Kehilangan telur akibat hal ini setidaknya tercatat terjadi dalam 25 bulan, dengan proporsi kerusakan berkisar antara 8,06 – 100%. Anjing tampaknya merupakan predator dominan di JM, diikuti oleh babi hutan, dan biawak. Proporsi kehilangan sarang telur penyu akibat gerusan air laut relatif kecil, dan hanya tercatat pada bulan Maret 2007 dan 2009, serta bulan Juni 2011 (Grafik 3).

Jumlah sarang telur yang dipantau di Warmon pada periode 2007 – 2011 berkisar antara 49 – 326 sarang per tahun. Seperti halnya yang terjadi di JM, kecenderungan populasi penyu Lekang bertelur di Warmon juga mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir (Grafik 4). Kecuali tahun 2008, masa puncak peneluran penyu Lekang di Warmon terjadi pada Bulan April (Grafik 5).
Predasi tampaknya juga menjadi masalah besar bagi sarang – sarang telur penyu Lekang di Warmon. Selama 60 bulan pengamatan, kehilangan sarang-sarang telur penyu akibat predasi setidaknya tercatat terjadi dalam 14 bulan dengan proporsi berkisar antara 2,15 – 100%. Anjing dan biawak adalah predator utama di Warmon. Predasi oleh babi hanya tercatat terjadi pada bulan Februari 2011 (1 sarang). Demikian pula halnya dengan kehilangan sarang telur penyu akibat gerusan air laut yang hanya terjadi pada bulan April 2010 (1 Sarang). Ringkasan proporsi sarang telur penyu akibat predasi dan gerusan air laut di Warmon selama periode 2007 – 2011 ditampilkan pada Grafik 6.     

Pada Tahun 2010 dilakukan relokasi sarang penyu Lekang di pantai JM dan Warmon. Total sarang telur penyu dimaksud adalah 59 sarang. Dari total sarang ini, telur fertil diketahui berjumlah 5461 butir, dan yang berhasil menetas adalah sebanyak 3862 butir. Dengan demikian sukses menetasnya adalah 70.72%. Kisaran masa inkubasi adalah antara 50 - 60 hari dengan rerata 52.78.

Pendugaan Jumlah Populasi Penyu Bertelur
Berdasarkan jumlah sarang penyu Lekang yang tercatat selama lima tahun (2007 – 2011) diketahui bahwa secara umum terjadi kenaikan jumlah individu betina yang bertelur di pantai Jamursba medi dan Warmon (lihat Tabel 2).  Rata- rata jumlah indvidu betina penyu lekang yang bertelur 182.73 - 350.91 ekor tiap tahun.  Bila  dibandingkan dengan populasi penyu Lekang bertelur   di Mexico dan India (Shanker et al, 2003; Cliffton et al, 1981)  tentu jumlah  ini sangat sedikit.  Walaupun demikian  tingginya predasi telur dan daging ini menjadi ancaman serius bagi penyu Lekang, selain produksi tukik dari pantai JM dan Warmon yang masih rendah. 
KESIMPULAN
Ini adalah laporan pertama tentang status populasi berdasarkan sensus jumlah sarang telur penyu dalam periode lima tahun di JM dan Warmon.  Belum ada tulisan sebelumnya yang membahas tentang penyu Lekang di pesisir Abun.
Masa puncak bertelur di  pantai JM tercatat stabil terjadi antara Bulan April – Mei setiap tahunnya, sedangkan di pantai Warmon terjadi  stabil pada Bulan April.  Hal ini menjadi penting dalam upaya perlindungan yang dilakukan terhadap sarang penyu Lekang supaya lebih fokus kepada bulan-bulan tersebut.
Secara umum, bisa dikatakan bahwa total sarang telur penyu Lekang di JM dan Warmon  dalam lima tahun terakhir ini masih terlihat mengalami peningkatan namun tidak begitu signifikan.  Diperkirakan rata- rata jumlah indvidu betina penyu Lekang yang bertelur 182.73 - 350.91 ekor tiap tahun. Walaupun demikian ancaman predasi masih cukup tinggi, di JM anjing menjadi predator yang dominan terhadap sarang penyu Lekang diikuti babi hutan dan biawak.  Sedangkan di pantai Warmon anjing dan biawak menjadi predator utama yang  merusak telur penyu Lekang.  Proporsi kehilangan sarang-sarang telur penyu oleh  gerusan air laut tampak relative kecil di pantai JM dan Warmon. 

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Walton Foundation yang telah membiayai kegiatan perlindungan penyu di Abun, masyarakat pemilik ulayat, tenaga pemantauan dan pengendalian predator di JM dan Warmon, masyarakat Kampung Saubeba, Warmandi dan Kampung Wau-Weyaf, Pemerintah Kabupaten Tambrauw, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat,  serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan monitoring  di Abun







REFERENCE

ADNYANA W. DAN C. HITIPEUW (2009) Panduan melakukan pemantauan populasi penyu di pantai peneluran di Indonesia. Jakarta:WWF Marine Program.

CLIFFTON, K. et al. (1981) Sea Turtle of the Pacific  Coast of Mexico. In : Proceedings of the World Conference on sea turtle Conservation, Washington,D.C., 26-30 November 1979. Washington, D.C. : Smithsonian institution Press. pp199 – 209
HITIPEUW, C. AND MATURBONGS, J. (2002) Marine turtle conservation program, Jamursba-Medi nesting beach, north coast of the Bird’s Head Peninsula, Papua. In: Kinan, I. (Ed.). Proceedings of the Western Pacific Sea Turtle Cooperative Research and Management Honolulu, Hawaii :Workshop Western Pacific Regional Fishery Management Council,  pp. 161–175.

SPOTILA, J.R. (2004) Sea Turtles: a complete guide to their biology, behavior, and conservation, London : The John Hopkins University Press.
.
SHANKER, K. et al (2006) A Re-Assesment of the Olive Ridley Turtle (Lepidochelys olivacea)
 Nesting Population in Orissa, India. In: Proceedings of the Twenty-Third Annual Symposium on Sea Turtle Biology and  Conservation, 17-21 Maret 2003 Kuala Lumpur.  Miami : NOAA Fisheries Service Protected Resources Division Sea Turtle Program. pp 95

  
Tabel 1. Tenaga Dan Peralatan  Pemantauan Sarang Per Segmen Pantai Di Jamursba Medi Dan  Warmon

Waktu Pemantauan
Jumlah Tenaga pada setiap segmen pantai
Peralatan yang digunakan pada pemantauan sarang
Wembrak
Batu Rumah
Warmamedi
Warmon
Pagi
2 orang
2 orang
3 orang
3 orang
Pencil, buku data (hard cover), parang, tas plastic,  sarung tangan
Malam
2 orang
1 orang
2 orang
2 orang
Meteran saku, pencil, buku data (hard cover), parang, tas plastic senter kepala,  Camera digital, metal tag dan aplicator







JumlahSarangLekangJM
Grafik 1. Perkembangan jumlah sarang telur penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Jamursba Medi selama periode 2007 – 2011.











jumlah sarangperbulanLekang
Grafik 2. Sebaran jumlah sarang telur penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Jamursba Medi berdasarkan bulan - bulan pengamatan pada periode Januari 2007 – Desember 2011. Perhatikan bahwa masa puncak peneluran terjadi pada bulan April atau Mei









PredatorJM

















Grafik 3. Perbandingan proporsi (%) sarang telur penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang rusak akibat dimakan babi hutan, anjing, biawak, serta akibat tergerus air laut pada periode 2007 – 2011 di Jamursba Medi. Total sarang per bulan adalah seperti ditampilkan pada Grafik 2.











JmlSarangLekangWM
Grafik 4. Perkembangan jumlah sarang telur penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Warmon selama periode 2007 – 2011.

SebarangSarangLekangWM
Grafik 5. Sebaran jumlah sarang telur penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Warmon berdasarkan bulan - bulan pengamatan pada periode Januari 2007 – Desember 2011. Kecuali tahun 2008, masa puncak peneluran terjadi pada bulan April.









PredatorWM
Grafik 6. Perbandingan proporsi (%) sarang telur penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang rusak akibat dimakan babi hutan, anjing, biawak, serta akibat tergerus air laut pada periode 2007 – 2011 di Warmon. Total sarang per bulan adalah seperti ditampilkan pada Grafik 5.







  

Tabel 2  Pendugaan Jumlah  Individu betina penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang bertelur tiap tahun berdasarkan jumlah sarang di Pantai Jamursba medi dan Warmon Tahun 2007 - 2011
Periode Survey
Jumlah Sarang
Estimasi  Jumlah Betina
Reference
WWF
UNIPA
Jan-Dec 2007
476
325
216.37
147.73
WWF-UNIPA, Unpubl data
Jan-Dec 2008
402
360
182.73
613.64
WWF-UNIPA, Unpubl data
Jan-Dec 2009
635
513
288.64
233.19
WWF-UNIPA, Unpubl data
Jan-Dec 2010
676
581
307.28
264.1
WWF-UNIPA, Unpubl data
Jan-Dec 2011
772
610
350.91
277.28
WWF-UNIPA, Unpubl data




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sah! Gubernur Papua Barat Keluarkan PERGUB UPTD TP Jeen Womom

Penantian yang ditunggu Pemerintah Kabupaten Tambrauw terjawab sudah, setelah ditetapkan Menteri  menjadi Taman Pesisir Jeen Womom pada Des...